Menyelisik di Balik Manunggal Fair Kulonprogo.
Walaupun jadwal kuliah yang padat tengah melanda saya saat ini,
sebagai mahasiswa saya tidak ingin melewatkan masa-masa liburan saya. Ya
walaupun bisa dibilang liburan karena rencana sendiri alias ngeliburin
diri. Kuliah yang isinya tugas semua dan organisasi yang cukup padat membuat
saya memutuskan untuk mengunjungi salah satu tempat yang memiliki budaya dan
wisata alam yang menarik.
Mendung siang itu menemani perjalanan panjang saya untuk
sampai ke kota kecil yang sering orang sebut “The Jewel of Java”, ya
benar Kulonprogo, salah satu Kabupaten yang terletak di selatan kota Yogyakarta.
Sekitar 45 menit saya bersama dengan salah seorang teman, panggil saja
Lifta, menelusuri jalan yang panjang
ramai hilir mudik kendaraan. Pantas saja ramai karena jalanan yang saya lalui
itu merupakan salah satu akses jalan menuju Ibu kota.
Dua hari sebelum saya memutuskan untuk mengunjungi kota
kecil itu, salah seorang teman memberi tahu saya, pada bulan ini Kulonprogo
genap berusia 65 tahun dan akan merayakan hari jadi kota tersebut. Itu menjadi
alasan dasar saya mengajak Lifta untuk memutuskan pergi melihat apa yang sedang
terjadi di sana, sekaligus menjawab rasa penasaran saya, apakah perayaan hari
jadi setiap kota di Indonesia ini sama ? Jawabannya, silahkan baca tulisan ini
sampai selesai.
Jam di tangan menunjukan pukul 10.00 wib. Waktu yang tepat
untuk kami berdua melanjutkan perjalanan menyelusuri jalan ramai sembari
ditemani gemercik air hujan siang itu. Dua tiga kali saya bertanya kepada
masyarakat sekitar, arah-arah jalan menuju stadion yang katanya terletak tak
jauh dengan patung kuda simpang lima yang ditunggangi oleh pahlawan wanita Nyi
Ageng Serang Kota Wates. Icon yang sangat menarik. “Lebih baik
bertanya daripada sesat di jalan” peribahasa yang pas untuk pendatang seperti
saya ini yang masih awam dengan jalanan kota orang.
Setelah ketiga kalinya bertanya, akhirnya sampailah kami
berdua di stadion terbesar di kota Wates ini, sebut saja Stadion “Cangkring”.
Stadion bola yang terletak di sudut kota ini merupakan satu-satunya stadion
bola yang terbesar di kota Wates. Keramaian terlihat jelas disepanjang jalan masuk
Stadion Cangkring, sampai-sampai parkiran sepeda motor terlihat berderet rapi
di perumahan penduduk. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 3000 saja pastikan
kendaraan yang saya bawa aman dijaga oleh tukang parkir yang sebagian besar
adalah penduduk sekitar.
Pintu masuk yang terletak tak jauh dari tempat menyimpan
kendaraan menjadi tujuan pertama saya. Baru beberapa saya melangkahkan kaki menuju
pintu masuk utama, spanduk besar bertuliskan, “Selamat Datang Pengunjung
Pameran Manunggal Fair 2016” sudah menyapa di depan mata.
Kulonprogo
Binangun begitu biasa masyarakat menyebutnya, tagline yang merupakan
akronim dari Beriman, Indah, Nuhoni, Aman, Nalar, Guyub, Ulet, dan Nyaman dapat
ditemukan di setiap sudut Kabupaten Kulonprogo. Setelah beberapa langkah saya
dan teman saya berkeliling di seputaran area stadion bola cangkring, seorang
pria yang kira-kira berusia 30 sampai 40 tahun berhasil menarik perhatian saya.
Pria yang kerap di sapa Subhki itu tengah asik memainkan jemari nya di depan
papan dengan ukuran sekitar 2x1 meter persegi. Dipadu kaos oblong merah putih
dan celana pendek biru, mas Subhki begitu saya memanggilnya, dengan gaya santai
ala ala seniman pada umumnya, beliau lalu menjelaskan kepada saya dan teman
saya apa yang tengah beliau kerjakan di depan papan berwarna biru laut dengan
bertuliskan “ Kulonprogo Binangun”.
“Kalau Kulonprogo itu simbolnya adalah pahlawan wanita Nyi
Ageng Serang, saya ingin mengekspresikan lewat karya ini bahwa gambar yang saya
lukis ini tidak hanya mengambarkan Nyi Ageng Serang dengan kuda yang
ditungganginya, namun saya juga ingin memadukan dengan gambar-gambar seperti
bola, papan catur, kuas lukis dan pensil sebagai simbol ajakan untuk masyarakat
Kulonprogo untuk mau berprestasi dengan kemampuan yang dimiliki oleh mereka,”
Tutur seniman asal Magelang ini.
Beranjak dari
keramaian pengunjung Manunggal Fair yang mulai memadati stand-stand yang
berdiri di kanan kiri jalan menuju pintu masuk stadion bola cangkring, saya
memutuskan untuk mengetahui lebih dalam mengenai Manunggal Fair 2016. Tampaknya
dewi fortuna tengah berpihak pada kita, tidak jauh dari tempat bertemunya saya
dengan mas Subhki nampak seorang dua
wanita mengenakan selempang berwarna merah dengan tulisan “ Diajeng Kulonprogo”.
Tanpa membuang waktu lama Lifta langsung menghampiri dan meminta waktu untuk
mengulas lebih dalam mengenai Manunggal Fair yang sudah menjadi acara tahunan
dalam rangka memperingati hari jadi Kulonprogo.
Di stand Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo itulah saya
dan Lifta dengan keponya menanyakan berbagai hal meliputi pariwisata
yang ada di Kulonprogo, dan juga tentang pemuda Kulonprogo yang aktif dalam
berbagai kegiatan. Tak lupa juga saya menanyakan seluk beluk dua wanita yang
masih mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan di salah satu Universitas
Negeri di Yogyakarta. Setelah ngalor-ngidul kami berbincang-bincang,
kedua diajeng tersebut mengantarkan saya dan Lifta ke depan pintu sekretariatan
Manunggal Fair untuk mencari tahu lebih dalam terkait acara apa saja yang akan
digelar di perayaan hari jadi Kulonprogo itu. Pertemuan kami ditutup dengan
berfoto bersama.
![]() |
| Foto bersama diajeng Kulonprogo 2015 |
Rasa haus sedikit mengurungkan niat saya untuk melanjutkan
perjalanan mengitari setiap tenda-tenda stand yang berdiri di selasar stadion
bola tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat di tribun stadion
yang saat itu tengah direnovasi. Sekitar 15 menit saya dan Lifta duduk sambil
membahas agenda apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Puas berfoto-foto kami
memutuskan untuk kembali melihat hasil karya masyarakat yang dipamerkan di
masing-masing stand.
Stand-stand yang berjejer rapi di selasar stadion itu
terdiri dari berbagai instansi pemerintahan, sekolah, dan komunitas yang ada di
Kulonprogo. Salah satu stand yang menarik perhatian saya adalah stand dari SMA
Negeri 2 Wates, di mana siswa-siswi yang sedang mendapat tugas berjaga hari itu
dengan semangatnya menjajakan kepada pengunjung hasil karya tangan mereka. Saya
pun memutuskan untuk menghampiri mereka dan sedikit bertanya-tanya tentang
gantungan kunci berwarna merah jambu dan orange, yang pada akhirnya membuat
saya tertarik untuk membelinya. Gantungan kunci yang cukup unik.
Beranjak dari stand SMA Negeri 2 Wates, sesuatu yang cukup unik menarik perhatian saya kembali. Icon dari stand Komisi Pemilihan Umum (KPU) berwarna orange berbentuk ikan. Setelah memutuskan untuk mengambil gambar icon stand KPU tersebut, salah satu stand kembali menarik perhatian saya. Stand Komunitas Disabilitas. Didalam stand tersebut banyak sekali makanan yang dijajakan. Yang membuat unik bukan hanya makanannya, tetapi makanan yang dijajakan tersebut merupakan hasil karya para penyandang disabilitas yang telah bergabung di komunitas yang berdiri sejak tahun 2013 itu. “Semangat mereka terbukti dengan kreativitas-kreativitas yang mampu mereka ciptakan meski banyak sebagian orang yang menganggap bahwasanya disabilitas adalah kaum yang terdiskriminasi,” Jelas salah satu pengurus komunitas disabilitas yang tengah berjaga saat itu.
| Icon ikan stand KPU |
Biang Lala dan Kora-kora.
Beberapa wahana
permainan yang disediakan di sana memaksa saya memutar kembali memory-memory
di masa kecil belasan tahun silam. Sembari berjalan-jalan disekitar permainan
anak-anak, perut yang dari pagi baru terisi semangkok mie ayam yang saya beli
bersama lifta di pinggir jalan itu, mulai menunjukan ketidakramahannya. Baru
beberapa langkah setelah saya memutuskan untuk mencari makanan penganjal perut,
Nampak seorang pedagang cilok sedang mangkal di ujung stand penjual pakaian.
Langsung dengan sigap saya menghampirinya. Sambil menunggu cilok yang dibakar
matang, rasa kepo saya muncul. Beberapa pertanyaan seputar Kulonprogo
pun saya tanyakan kepada penjual cilok itu. Dengan santai nya satu persatu
pertanyaan saya dijawab olehnya. Tiga kali kamera DSLR 600 D yang saya pegang
mampu mengambil gambar wahana yang berdiri kokoh di sudut stadion bola
cangkring itu. Tampaknya pengunjung sangat menikmati apa yang disediakan oleh
panitia Manunggal Fair tahun ini. Bukan hanya wahana permainan yang dapat
memikat hati pengunjung, tetapi suasana yang tergambar di sana mampu menunjukan
keramahan masyarakat Kulonprogo yang sesuai dengan tagline nya,
Binangun.
| Salah satu wahana permainan yang terdapat di Stadion Cangkring. |
Saya mengakhiri rasa penasaran saya tentang Manunggal Fair
2016 dengan beristirahat di sebuah Masjid Agung yang terletak di Kecamatan
Pengasih, sembari menunggu hujan reda yang saat itu tengah menguyur Kabupaten yang sedang
menyambut hari jadinya yang ke 65. Saya puas menikmati perjalanan saya hari itu,
begitu juga saya puas menuangkannya dalam bentuk tulisan ini.


Komentar